Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah – Fakta dan Dampaknya

Pengajaran bahasa Inggris adalah kunci pokok penopang keberhasilan interaksi dunia. Keberhasilan menguasai bahasa ini mempermudah alur kebersamaan antar bangsa. Karenanya, diperlukan kebebasan dalam mempelajari dan memahami bahasa secara utuh.

Pasca perang dunia kedua, bahasa Melayu memperoleh kemerdekaannya dengan terbaginya bentuk bahasa ini dalam dua bentuk bahasa baku: bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. Perbedaannya sederhana, bahasa Indonesia lebih banyak menyerap bahasa Belanda, sementara bahasa Malaysia lebih banyak menyerap bahasa Inggris.

Kemerdekaan berbahasa ini juga telah dideklamasikan oleh Bung Tomo saat seruan Sumpah Pemuda tahun 1928. Bahasa Indonesia memperoleh kemerdekaan. Begitu pula dengan bahasa asing maupun bahasa daerah. Masing-masing memiliki kemilau di zamannya.

Waktu telah berhasil menggulirkan dan memerdekakan ragam bahasa. Tidak banyak yang tahu, pengajaran bahasa Inggris di Indonesia sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Namun kemudian dihapus oleh pemerintah pendudukan Jepang. Penghapusan itu merupakan bagian dari revisi sistem pendidikan yang telah diadakan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, pengajaran Bahasa Inggris kembali dilanjutkan. Dimulai dari lahirnya kurikulum tahun 1946, pengajaran bahasa Inggris diharapkan menjadi bekal bagi anak didik dalam hal menguasai berbagai keterampilan seperti menulis, membaca, bercakap, dan menyimak.

Pergantian kurikulum, nyatanya tidak pernah mengubah tujuan dasar pengajaran bahasa Inggris di sekolah. Tujuh puluh tahun sudah pendidikan bahasa Inggris menjadi bagian dari sistem pendidikan di sekolah konvensional. Bukan waktu yang singkat untuk membentuk sebuah peradaban. Bukankah bahasa merupakan kunci sebuah peradaban.

Modernitas suatu bangsa dinilai dari penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. Lalu apakah pengajaran bahasa Inggris dalam dunia pendidikan kita benar-benar telah mengantarkan kita ke depan pintu gerbang modernitas?

Fakta Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah

Lebih dari enam tahun mengenal bahasa Inggris di sekolah konvensional, nyatanya tidak memberikan sumbangsih besar dalam pengembangan pengetahuan anak didik.

Di sekolah, anak didik diajari bermacam tenses tanpa pernah tahu pembagian kelas kata. Mereka diajari rumus-rumus penyusunan kalimat tanpa tahu maksud dan penggunaan kalimat tersebut. Mereka disesaki dengan berbagai tugas tanpa ada pengaplikasian speaking dalam kehidupan sehari-hari. Sekali lagi, pengajaran bahasa Inggris hanya dilakukan sepotong-sepotong.

Dilema baru bermunculan. Saat dunia menuntut kemampuan berbahasa Inggris, kurikulum 2013 justru tidak memasukkan mata pelajaran bahasa Inggris dalam mata pelajaran wajib di tingkat SD. Tindakan ini merupakan bentuk kekhawatiran terhadap beban kognitif anak didik di sekolah serta kekhawatiran bahwa murid SD menjadi tidak fokus dalam mempelajari bahasa nasional (Bahasa Indonesia).

Bukankah hal ini kemudian menjadi sesuatu yang lucu? Saat satu per satu jati diri bangsa terlucuti, mulai dari tata busana, boga, dan bahasa asli daerah kian terpinggirkan atas nama arus modernisasi, kekhawatiran akan penggunaan bahasa Indonesia baru muncul takkala dunia sudah mendesak penggunaan bahasa Inggris dalam setiap aspek kehidupan.

Dampak Pengajaran Bahasa Inggris yang tak Relevan

Kursus bahasa Inggris menjamur sebagai akibat dari kepincangan pembelajaran di sekolah konvensional. Bahasa Inggris kemudian menjadi barang mahal dan bisnis segar mengingat bahasa Inggris menjadi kebutuhan utama untuk diterima dunia.

Dalam konteks ini, penulis hanya ingin menyampaikan betapa pentingnya keseimbangan antara muatan lokal (pelajaran kedaerahan), sebagai cikal bakal lahirnya bangsa Indonesia, dengan pendidikan bahasa baik itu bahasa Indonesia maupun bahasa asing saat ini. Kita tidak mungkin menolak arus modernisasi demi sebuah perubahan.

Tidak adanya keharusan belajar bahasa Inggris di sekolah dasar tentu menjadi sebuah kepincangan. Tanpa pengajaran alphabet di tingkat dasar, anak didik lalu di minta untuk merangkai kalimat di tingkat menengah. Terjadi ketimpangan dan kebingungan-kebingungan. Sehingga secara terpola, membentuk persepsi negatif yang menyebutkan pelajaran bahasa Inggris tidak menyenangkan.

Pendidikan yang seharusnya menyenangkan menjadi tidak menarik karena tidak adanya pengetahuan mendasar yang ditanamkan di tingkat dasar. Bahasa kembali terikat dalam satu konteks menjemukan. Bahasa daerah di anggap kampungan, bahasa Indonesia disepelekan, sementara bahasa asing dikacaukan dengan kata “susah”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *