√ Kenali 5 Perbedaan Syariah dan Fiqih di Sini [Mudah]

perbedaan syariah dan fiqih

Banyak yang beranggapan bahwa syariah itu sama dengan fiqih, atau fiqih itu adalah syariah. Ternyata jika ditelusuri lebih lanjut, perbedaan syariah dan fiqih sangatlah kentara. 

Misalnya dalam keputusan hukum islam berbahasa Inggris, syariah islam diterjemahkan dengan Islamic Law (hukum islam), sedang fiqih islam diterjemahkan dengan Islamic Jurisprudence (Putusan hakim / ketetapan ahli fiqih).

Read More

Nah untuk mengenali perbedaan keduanya secara detail, simak penjelasan saya di bawah dengan seksama.

Sebagai informasi dasar, pastikan juga Anda membaca artikel sebelumnya tentang pengertian hukum islam.

Perbedaan Syariah dan Fiqih

Ilustrasi pendahuluan di atas mencerminkan bagaimana syariah dan fiqih berbeda secara gamblang.

Adapun intisari perbedaan keduanya dapat Anda simak berikut:

  • Syariah adalah hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits, sedang fiqih adalah hasil pemahaman terhadap al-Qur’an dan Hadits.
  • Syariah memiliki ruang lingkup yang lebih luas (Iman, Moral, dan perbuatan manusia), sedang ruang lingkup fiqih hanya berkisar pada aspek perbuatan manusia semata.
  • Syariah adalah ketetapan Allah dan Rasulnya, Sedang fiqih adalah ketetapan para fuqaha (manusia biasa), karenanya kerap terjadi perbedaan pendapat.
  • Syariah menunjukkan kesatuan hukum dalam islam, sedang fiqih menunjukkan keberagaman.
  • Syariah bersifat fundamental, karenanya bersifat abadi. Sedang fiqih bersifat instrumental, karena itu, fiqih dapat berubah.

Baca juga tujuan-tujuan hukum islam serta ruang lingkup hukum islam dalam segala aspek pada artikel Fabelia yang lain.

Perbandingan Syariah dan Fiqih

Untuk mengetahui lebih detail bagaimana perbedaan syariah dan fiqih, perhatikan surat QS Al-Maidah ayat 6 berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” 

Ayat diatas menjelaskan tentang tatacara pelaksanaan wudhu dalam Islam. Mulai dari membasuh wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Ini semua disebut dengan syariah.

Mengenai perbedaan ulama tentang mengusap kepala, ada yang berpandangan sebagian rambutnya di basuh (menurut imam Malik), atau cukup mengusap beberapa rambut (menurut imam Syafi’i), inilah yang disebut dengan fiqih.

Contoh lain, ayat tentang iddah (masa tunggu karena dicerai) berbunyi :

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali Quru’ [al-Baqarah/2: 228]

Sesuai dengan keterangan ayat ini, dalam syariat terdapat iddah (masa tunggu) bagi perempuan yang di talak. Namun para ulama Fiqih berbeda pandangan mengenai lamanya masa tunggu tersebut. Ada yang beranggapan bahwa masa iddahnya adalah tiga kali suci, ada pula yang yeng berpendapat tiga kali haid. Pandangan-pandangan ulama inilah yang disebut dengan fiqih.

Perhatikan juga hadits berikut:

حَدَّثَنَاسُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ ، حَدَّثَنَاشُعْبَةُ ، قَالَ : أناأَبُو عَوْنٍ ، عَنِالْحَارِثِ بْنِ عَمْرٍو ابْنِ أَخِي الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ ، عَنْأَصْحَابِ مُعَاذٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ ، عَنْمُعَاذٍ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ ، قَالَ لَهُ : ” كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عُرِضَ عَلَيْكَ قَضَاءٌ ؟ قَالَ : أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ ، قَالَ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ ؟ قَالَ : بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ؟ قَالَ : أَجْتَهِدُ رَأْيِي لا آلُو ” ، قَالَ : فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ ، وَقَالَ : ” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ ” .

Rasulullah SAW bertanya saat hendak mengutus muadz ke Yaman.

Rasul: Bagaimana anda memutuskan jika terdapat suatu persoalan?

Muadz: Saya putuskan dengan apa yang ada dalam kitab Allah.

Rasul: Bagaimana jika tidak ada dalam kitab Allah?

Muadz: Saya putuskan dengan sunnah rasulnya (hadits)

Rasul: Jika tidak ada dalam sunnah?

Muadz: Maka saya berijtihad dengan pendapat saya.

Kemudian rasul menepuk dada Muadz, seraya berkata: segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusannya utusan Allah terhadap apa yang Allah ridhoi kepada Rasul-Nya

Berdasarkan hadits di atas, pandangan Muadz untuk menetapkan kebijakan sesuai dengan ketentuan al-Qur’an dan Hadits, itulah yang disebut dengan syariah. Sedang pandangan Muadz tentang ijtihadnya secara pribadi jika tidak menemukan ketentuan al-Qur’an dan Hadits, inilah yang disebut dengan fiqih.

Kesimpulan: perbedaan syariah dan fiqih bisa dengan mudah kita kenali. Syariat adalah hukum Allah, sedang fiqih adalah pemahaman manusia (baik berupa hasil interpretasi / atau hasil penelitian) terhadap hukum Allah tersebut.

Related posts