√ Tata Cara Wudhu dalam Al-Qur’an & Hadits [LENGKAP]

tata cara wudhu

Seorang muslim harus mengetahui tata cara wudhu, mengingat wudhu menjadi persayaratan untuk menunaikan ibadah shalat. Jika wudhunya tidak sah, maka shalatnya pun demikian.

Oleh sebab itu, di artikel ini Anda akan melihat bagaimana tata caranya secara gamblang, yang didukung dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Hadits. Pastikan Anda mebaca materi ini hingga tuntas. Mudah-mudahan dapat dikuasai dengan baik.

Read More

Tata Cara Wudhu

Tata cara wudhu secara umum bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Pelaksanaan wudhu dalam al-Qur’an dapat Anda lihat dalam surat Al Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Ayat diatas kemudian jelaskan kembali oleh Rasulullah SAW dengan menambahkan amaliah-amaliah tertentu seperti berkumur, mengusap telinga, dan lain sebagainya. Adapun beberapa hadits nabawi yang dapat menjadi pedoman dalam berwudhu diantaranya:

Dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Atha’ bin Yazid al-Laits mengabarkan kepadanya:

أَنَّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ عُلَمَاؤُنَا يَقُولُونَ هَذَا الْوُضُوءُ أَسْبَغُ مَا يَتَوَضَّأُ بِهِ أَحَدٌ لِلصَّلَاة

Humran budak Utsman memberitakan kepadanya bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu meminta diambilkan air wudhu, kemudian dia berwudhu dengan membasuh kedua telapan tangannya sebanyak tiga kali. Kemudian dia berkumur-kumur dan ber-istintsar (mengeluarkan air yang dihirup ke hidung, pent). Kemudian dia membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian dia membasuh tangan kanannya hingga siku sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh tangan kiri seperti itu pula. Kemudian dia mengusap kepalanya. Kemudian dia membasuh kaki kanannya hingga mata kaki sebanyak tiga kali. Kemudian dia membasuh kaki kiri seperti itu pula. Kemudian Utsman berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu berwudhu seperti yang kulakukan tadi. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berwudhu seperti caraku berwudhu ini kemudian bangkit dan melakukan sholat dua raka’at dalam keadaan pikirannya tidak melayang-layang dalam urusan dunia niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” Ibnu Syihab mengatakan, “Para ulama kita dahulu mengatakan bahwa tata cara wudhu seperti ini merupakan tata cara paling sempurna yang hendaknya dilakukan oleh setiap orang.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah, diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam Kitab al-Wudhu’ dengan redaksi yang agak berbeda)

Dari Hammam bin Munabbih, dia berkata:

هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ.

Ini adalah hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhukepada kami dari Muhammad utusan Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dia menyebutkan beberapa hadits, di antaranya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu maka hiruplah air dengan kedua lubang hidungnya kemudian keluarkanlah.”(HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)

Dari Utsman bin Abdurrahman at-Taimi berkata:

سُئِلَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْوُضُوءِ فَقَالَ رَأَيْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ سُئِلَ عَنْ الْوُضُوءِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَأُتِيَ بِمِيضَأَةٍ فَأَصْغَاهَا عَلَى يَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ أَدْخَلَهَا فِي الْمَاءِ فَتَمَضْمَضَ ثَلَاثًا وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَغَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَأَخَذَ مَاءً فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ فَغَسَلَ بُطُونَهُمَا وَظُهُورَهُمَا مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُونَ عَنْ الْوُضُوءِ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ

Ibnu Abi Mulaikah pernah ditanya mengenai wudhu, maka dia menjawab: Aku pernah melihat Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu ditanya tentang wudhu. Maka beliau meminta diambilkan air. Lalu didatangkan kepadanya sebuah timba berisi air lalu dia ambil air itu dengan memasukkan tangan kanannya ke dalam air. Kemudian dia berkumur-kumur tiga kali dan beristintsar tiga kali. Lalu dia membasuh wajahnya tiga kali. Kemudian dia membasuh tangan kanannya tiga kali dan membasuh tangan yang kiri juga tiga kali. Kemudian dia masukkan tangannya ke dalam timba itu dan mengambil air untuk mengusap kepala dan kedua daun telinganya. Dia membasuh (mengusap) bagian dalam kedua telinga itu dan bagian luarnya, dia melakukan itu hanya sekali. Kemudian dia membasuh kedua kakinya, lalu dia berkata, “Manakah orang-orang yang bertanya mengenai wudhu tadi? Demikian itu tadi cara berwudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aku saksikan.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan sahih oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [1/186] as-Syamilah)

Berdasarkan dalil-dalil di atas, dalam pelaksanaan wudhu terdapat hal-hal yang harus dilakukan (fardhu), serta hal-hal yang dianjurkan (sunnah).

Perkara-perkara yang masuk dalam kategori fardhu dalam praktik wudhu haruslah dilaksanakan. Sebab jika tidak, maka wudhunya tidak sah.

Sedang dalam perkara yang dianjurkan (sunnah), sebaiknya dilaksanakan, meski tidak merusak wudhu jika perkara tersebut ditinggalkan.

Fardu Wudhu

Ketentuan-ketentuan yang wajib dikerjakan dalam wudhu adalah sebagai berikut:

1). Niat

Niat dilakukan untuk membedakan wudhu dengan perbuatan-perbuatan lainnya. Dasar dari niat ini adalah hadits Rasulullah SAW:

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ تعالى عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يَقُولُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرَتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوله، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَو امْرأَة يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs Umar bin Al Khattab radhiyallaahu ‘anhu ta’ala, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya pada apa yang ia niatkan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim dalam kitab shahih mereka masing-masing.

2). Membasuh muka

Batasan wajah dihitung dari sisi-sisi tumbuhnya rambut, cuping telinga kanan dan kiri, dan dagu. Jika berjanggut, maka janggutnya juga perlu di basuh.

3). Membasuh tangan hingga siku

Pastikan  kotoran-kotoran yang nenempel pada kuku dibersihkan agar tidak menghalangi air. Sebab kuku juga termasuk anggota yang wajib di basuh.

4). Mengusap kepala

Ada perbedaan pandangan dikalangan ulama tentang tatacara mengusap kepala. Menurut Imam Syafi’i, cukup dengan mengusap beberapa rambut. Menurut imam hambali, yang diusah adalah sebagaina kepala. Sedang menurut Imam Malik, sebagian besar rambutnya perlu dibasuh (dengan alasan “lil ikhtiyat” atau untuk menjaga kehati-hatian)

5). Membasuh kaki hinga matakaki

Ayat di atas sudah jelas menyebutkan untuk membasuh kaki hingga matakaki. Hal ini dikuatkan oleh hadits Rasul SAW berikut:

6). Tertib / berurutan

Hal ini dafahami dari urutan pelaksaanaan wudhu yang disebutkan dalam Al-Maidah ayat 6 di atas.

Sunah Wudhu

Perbuatan-perbuatan sunnah dalam wudhu dapat dilakukan berdasarkan keterangan hadits nabi SAW.

  1. Bersiwak
  2. Membaca Basmalah
  3. Membasuh telapak tangan
  4. Berkumur-kumur
  5. Menghirup air
  6. Mengusap telinga
  7. Mendahulukan anggota tubuh bagian kanan

Ketentuan sunnah di atas tidak bersifat memaksa. Artinya, boleh ditinggalkan. Meski demikian, mengerjakannya jauh lebih utama, sebab mengikuti tuntunan Nabi SAW. Sehingga dihitung pahala bagi yang mengerjakannya.

Sebagai materi pendukung, pelajari juga informasi tentang macam-macam hukum islam.

Rangkaian Wudhu

Jika tata cara wudhu di atas diruntut secara lengkap, dengan menggabungkan fardhu dan sunnahnya, maka akan seperti berikut:

  1. Bersiwak
  2. Membaca Basmalah
  3. Membasuh telapak tangan
  4. Berkumur
  5. Menghirup air
  6. Niat (yang dibarengi dengan basuhan pertama pada wajah)
  7. Membasuh muka
  8. Membasuh tangan hingga siku (mendahulukan kanan)
  9. Mengusap kepala
  10. Mengusap telinga
  11. Membasuh kaki hinga matakaki (mendahulukan kanan)
  12. Tertib / berurutan 

Note: dalam pelaksanaannya, di setiap basuhan / usapan anggota wudhu terdapat doa-doa yang dianjurkan untuk di baca. Simaklah daftar doa wudhu yang telah saya uraikan dalam artikel sebelumnya.

Related posts